Kamis, 28 Oktober 2010

Candi Kethek


Candi Kethek

Hm, Candi Kethek terletak sekitar 300 meter dari Candi Ceto, otomatis Candi Kethek masih terletak di Dukuh Cetha, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah.

Bacpacker ke Candi Kethek

   >  Untuk menuju ke Candi Kethek, caranya sama saat kita menuju Candi Ceto.

   >  Pada teras pertama yang memiliki banyak pendopo terdapat sebuah pintu kecil di seblah kiri dan di salah satu tiang pendopo terdapat papan petunjuk yang menjelaskan arah menuju Candi Kethek dan Puri Taman Saraswati. Saking kecilnya papan ini, saya sampai terlewatkan beberapa kali.

     Jalan menuju Candi Kethek tidaklah mudah, kita harus melewati jalan tanah dengan jurang di sebelah kiri. Selepas dari Candi Ceto, tidak ada papan petunjuk menuju ke Candi Kethek. Walau cuma satu jalan, menuju Candi Kethek agak membingungkan karena tiba – tiba jalannya berubah menjadi tanah lapang berumput yang kecil dan juga becek. Malahan disini saya mendapati sepasang remaja berpacaran sambil menikmati indahnya panorama alam dengan ditemani musik dari Hp, weleh....weleh......

     Karena jalan yang ga jelas ini menjadi alasan bagi ibu dan adik saya untuk kembali lagi karena mereka sudah lumayan ngeri melewati jalan setapak berhiaskan jurang. Berhubung saya sudah melihat foto Candi Kethek, maka petunjuknya adalah pepohonan yang tumbuh di Candi Kethek. Demi melihat pohon yang sama tumbuh bergerombol di atas bukit didepan, maka perjalananpun berlanjut.


    Selepas remaja berpacaran, maka jalanan menurun dengan batu – batuan. Sialnya, karena semalam habis hujan, maka jalan menurun ini tak ubahnya air terjun mini. Setelah itu kita melewati sungai kering yang ketika saya datang ada aliran airnya dalam debit yang minim. Dan jika hujan deras, maka sungai dadakanpun akan tercipta dengan sebuah air terjun kecilpun juga akan muncul. Selepas sungai, jalananpun kembali menanjak naik dan sampailah kita di Candi Kethek.

    Candi Kethek merupakan candi Hindu seperti candi – candi lainnya si sekitar Gunung Lawu. Candi Kethek sendiri berbentuk puden berundak dan terdiri dari batu – batu alam dalam ukuran besar dan kecil serta ditumbuhi pohon pinus disana – sini. Candi Kethek terdiri dari tujuh teras atau tingkat. Di setiap teras terdapat beberapa dupa di kanan – kiri tangga, dulunya sewaktu pemugaran, ditemukan arca kura – kura kecil di setiap tangga masuk dan sekarang entah kemana perginya arca tersebut. Tangga di Candi Kethek berukuran kecil dan curam. Atap candi sudah mneghilang dan sekarang di atas candi terdapat altar pemujaan kecil dengan puncak dicat bewarna emas sehingga menyolok mata jika dilihat dari bawah. Altar tersebut dipenuhi dupa dan bunga yang agak segar.

    Candi Kethek minim informasi dan katanya terdapat lima buah panil relief diantara ratusan batu penyusunnya. Sayangnya saya tidak dapat menemukan relief tersebut dan berdasarkan foto yang saya peroleh, relief tersebut dalam keadaan yang sangat aus dan sayapun ga yakin apakah itu benar – benar relief ?!

    Candi Kethek pernah dicoba direkonstruksi pada tahun 1928 dan Candi Kethekpun juga pernah diteliti oleh tim arkeologi dari Belanda pada tahun 1842. Tim ini meneliti situs purbakala di sekitar Gunung Lawu, termasuk Candi Ceto, Candi SukuhCandi Planggatan serta beberapa candi lain yang belum sempat dinamai.

    Candi Kethek Berada Di Bawah Caption Nama Diantara Pepohonan

    Tiga arkeolog Belanda yaitu Verbeek, Van Der Vlis dan Hoepermans pernah melakukan penelitian dan penggalian di kawasan punggung Gunung Lawu dan Candi Kethek juga ikut diteliti.

    Candi Kethek dipugar kembali pada tahun 1982 oleh asisten khusus Presiden Soeharto, Soedjono Hoemardani yang juga memugar Candi Ceto.

    Memang, semangat pantang menyerah harus diterapkan jika ingin mengunjungi Candi Kethek (kayaknya agak berlebihan). Hal ini terbukti dengan banyaknya orang yang kembali hanya karena melihat jalan yang menghilang dan sepasang remaja memadu kasih (benar – benar betah banget yang pacaran). Tapi, beruntunglah mereka bisa sampai ke Candi Kethek demi melihat saya nongol diatas bukit dan berteriak ga jelas itu, sehingga mereka kembali mengambil jalan yang saya lalui.

                                              Candi Kethek

     Sayangnya, walaupun bernama Candi Kethek (Bahasa Indonesia Kethek = monyet) saya tidak menjumpai satupun kera disini. Candi Kethek yang masih dipergunakan warga sekitar yang beragama Hindu untuk beribadah sepertinya harus berbenah, terutama mengenai masalah memperbesar dan memperbanyak papan petunjuk agar wisatawan tidak tersesat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar