Sabtu, 06 November 2010

Astana Giribangun


Astana Giribangun

Hm, Astana Giribangun merupakan tempat peristirahatan terkhir dari mantan presiden Indonesia kedua, Bpk Haji Moehammad Soeharto.

 Bacpacker ke Astana Giribangun

   >  Jika dari Solo, kita bisa naik bus jurusan Tawangmangu dan turun di Terminal Karangpandan, estimasi biaya Rp 4.000,-

   >  Dari Terminal Karangpandan, kita dapat naik angkudes menuju Matesih, sebuah kecamatan di Karanganyar. Berhubung saya naik ojek, saya kurang tahu apakah angkudesnya langsung menuju Astana Giribangun atau tidak. Tapi berdasarkan info yang saya peroleh, kita akan turun di terminal Matesih dan masih naik angkudes lagi menuju Astana Giribangun.


Astana Giribangun, Letak Dan Sejarah

Astana Giribangun berada di Desa Karang Bangun, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Astana Giribangun terletak di lereng barat Gunung Lawu dengan ketinggian 666,6 mdpl dan berada di bawah makam Astana Mangadeg, makam para penguasa Mangkunegaran yang berada di 750 mdpl. Perbedaan ketinggian ini ada alasannya karena untuk menghormati penguasa mangkunegaran dank arena Ibu Tien Soeharto adalah keturunan Mangkunegoro III.

Astana Giribangun terdapat beberapa cungkup atau bangunan makam. Cungkup Argo Sari teletak di tengah-tengah dan paling tinggi, di bawahnya, ada Cungkup Argo Kembang, dan paling bawah adalah Cungkup Argo Tuwuh. 


Di Cungkup Argo Sarilah terdapat makam Pak Soeharto (terletak di barat Makam Ibu Tien) beserta  makam Ibu Tien (berada paling timur), makam Fatmanti Soemaharjono (ibunda Ibu Tien Soeharto), makam Soemaharjono (bapak dari Tien Soeharto) dan makam Siti Hartini Oudang (kakak tertua Ibu Tien Soeharto). Di dalam Cungkup Argo Sari total ada lima makam. Di pelataran pendoponya juga terdapat makam – makam lain yang masih kerabat dengan keluarga Ibu Tien Soeharto.

Selain sebagai makam Keluarga Cendana, Astana Giribangun juga diperuntukkan untuk pengurus dalam Yayasan ibu Tien Soeharto.

Astana Giribangun dibangun sejak 27 November 1974. Diresmikan pada 23 Juli 1976 oleh KR Ay. Hatmanti, Ibunda Hj. Tien Soeharto, ditandai dengan pemindahan jenazah Ayahanda dan kakak kandung Ibu Tien yakni KPH Soemohardjo dan Siti Hartini. Keduanya sebelumnya dimakamkan di Makam Umum Toroloyo.

Astana Giribangun menjadi sangat terkenal ketika Ibu Tien Soeharto meninggal pada Minggu, 28 April 1996 dan dimakamkan didalam Cungkup Argo Sari pada Senin, 29 April 1996. Semenjak itu, ribuan wisatawan berkunjung untuk berziarah. Jumlahnya rata – rata 3.000 peziarah setiap hari, bahkan pada hari libur, jumlahnya melonjak hingga 13.000 peziarah dalam satu hari.

Semenjak reformasi bergulir, Astana Giribangun mulai sepi peziarah. Pamornya kembali naik ketika Pak Soeharto meninggal pada Minggu, 27 Januari 2008 dan dimakamkan di dalam Cungkup Argo Sari didekat makam ibu Tien pada Senin, 28 Januari 2008 sesuai dengan wasiat beliau.

Jika naik kendaraan umum, maka untuk menuju Astana Giribangun, kita harus melalui jalan yang menanjak. Jika takut capek, kita bisa naik ojek dengan ongkos Rp 5.000,- sekali jalan. Di luar areal makam terdapat pedagang bunga dan juga pedagang pakaian dengan kaso bersablon Pak Harto.

                                 Makam - Makam Di Pelataran Cungkup Argosari

Gratis Tapi Bayar

Sebelum masuk, kita diharuskan melaporkan diri terlebih dahulu [kaya upacara aja], setelah itu kita akan diberi kertas berisi keterangan anggota rombongan yang berkunjung. Astana Giribangun merupakan wisata ziarah yang gratis alias tanpa pungutan biaya, tapi saat lapor, kita akan ditarik sumbangan sukarela (nggak apa – apa’lah), tapi, kita akan ditarik sumbangan sukarela lagi saat keluar dari Cungkup Argo Sari sembari menyerahkan kertas laporan tersebut ke petugas yang jaga disini. Disinilah arti kata Gratis menjadi Bayar !! Kalau begini lebih baik ditarik karcis retribusi saja biar transparan.

Kita dilarang foto didalam Cungkup Argo Sari. Jika mau berfoto, ada petugasnya sendiri dengan tarif Rp 20.000,- Tarif yang mahal menurutku, karena fotonya sendiri dicetak ukuran 4R, padahal di Prambanan, foto kita dicetak 10R dan ditarik biaya Rp 10.000,- ya udahlah, untuk kenang – kenangan dan mumpung berada di sini.

Habis selesai difoto disebelah makam Pak Harto, petugas foto muncul lagi dan kali ini langsung menyuruh kita berfoto di depan makam Bu Tien. Tapi, tunggu dulu !! Bukannya Rp 20.000,- itu untuk sekali foto ?? Setelah menginterograsi juru fotonya, ternyata kita akan ditarik lagi biaya sebesar Rp 20.000,- kalau ditotal menjadi Rp 40.000,- !! Tentu saja kami menolaknya, tapi kok ga bilang terlebih dahulu tho ??! Bahkan setelah kami selesai ada rombongan ibu – ibu beserta keluarga mereka mencak – mencak disuruh bayar Rp 20.000,- untuk berfoto !!

Sembari menunggu hasil cetakan foto [Yang ternyata makam pak Haro dan Bu Tien terpotret jelas sebagai background (Thanx God)] kami menyempatkan diri berfoto di pendopo Argo Sari. Pake blitz atau enggak, ternyata hasil fotonya blur dan berbayang semua !! Belum lagi petugas jaganya menyuruh kami agar tidak jeprat – jepret terus (padahal udah minta izin dan cuma foto 3x aja !!) dan sebelumnya, saat berada di dalam Cungkup, begitu masuk, kami dipaksa berdoa (Yee, berdoa kok dipaksa tho pak ??).

                                  Cungkup Argosari, Astana Giribangun

Terlepas dari kekurangannya, Astana Giribangun sebenarnya sangat cocok dijadikan sebagai alternatif wisata jika kita berkunjung ke Karanganyar, karena memiliki pemandangan yang hijau, sejuk serta indah dengan fasilitas mulai dari kamar kecil, ruang tunggu hingga mushola.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar